KEPRIBADIAN - ERICH FROMM

Monday, 10 June 2013

3 comments



 ERICH FROMM


Erich  Fromm, seperti Alfred Adler dan Karen Horney, berpendapat bahwa kita tidak hanya dipengaruhi dan dibentuk oleh kekuatan naluri biologis kita, seperti yang dikemukakan oleh Fromm. Oleh karena itu, Fromm mengemukakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh aspek sosial dan budaya .
Penekanan Fromm pada faktor sosial dari kepribadian lebih luas daripada Adler dan Horney. Kita bisa katakan bahwa Fromm mencakup pandangan yang lebih luas pada perkembangan kepribadian daripada teori–teori lainnya, hal ini disebabkan oleh mengutamakan aspek sejarah. Dia menjelaskan bahwa kita dapat menemukan kejadian–kejadian sejarah pada akar dari kesepian, keterasingan dan terabainya seseorang. Untuk menemukan tujuan dalam hidup, kita perlu menghilangkan perasaan–perasaan terasing dan mengembangkan perasaan saling memiliki. Sebaliknya, meningkatnya kebebasan yang kita dapatkan dapat meningkatkan kesendirian dan keterasingan kita. Terlalu banyak kebebasan bisa menjadi sebuah jebakan sehingga menyebabkan kondisi yang tidak baik, yang mana sebaiknya kita cegah.
Fromm meyakini bahwa konflik pribadi yang kita alami berasal dari masyarakat yang kita bangun bersama. Fromm juga optimis mengenai kemampuan kita untuk mengembangkan karakter kita dan menyelesaikan masalah kita sendiri – masalah yang diciptakan oleh masyarakat kita. Kita tidak saja menerima imbas dari pengaruh sosial sebagai penentu dari kepribadian kita dan masyarakat. Fromm adalah seorang psikoanalisis, filsuf, sejarahwan, dan budayawan. Fromm  mengumpulkan banyak data diluar jangkauan psikoanalisa dan menawarkan pemahaman yang unik mengenai interaksi antara sifat–sifat alami manusia dengan masyarakat.
                                                                                                                               
KEHIDUPAN FROMM
Erich Fromm adalah salah satu seorang tokoh psikoanalisa. Beliau lahir di Frankfurt, Jerman, pada tanggal 20 Maret 1900, dalam sebuah keluarga Yahudi ortodoks. Ayahnya seorang bussinessman. Kehidupan keluarganya tidak bahagia. Karakter Fromm terbentuk dari keadaan keluarganya pada saat itu. Ayahnya seorang yang pemarah, penyendiri, emosinya cenderung tidak stabil, dan ibunya adalah seorang yang gampang depresi. Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang ‘unberable, neurotic child’. Ketika Fromm berusia 12 tahun, dia dikejutkan dengan teman orangtuanya yang merupakan seorang pelukis berusia 25 tahun, yang rela untuk mengakhiri hidupnya agar dapat bersama dengan ayahnya dalam satu liang kubur. Fromm mungkin cemburu dengan keadaaan ini, tapi tidak dapat mengerti mengapa seorang wanita muda memilih untuk bersama dengan pria yang sama sekali tidak menarik. Singkatnya, setelah ayah wanita itu meninggal, wanita itu pun bunuh diri.
Fromm kemudian melanjutkan pendidikannya di bidang psikologi dan sosiologi di Universitas Heidelberg, Frankfurt dan Munich. Setelah mendapat gelar Ph.D dari Heidelberg tahun 1922, ia belajar psikoanalisis di Munich dan pada Institut Psikoanalisis Berlin yang terkenal. Ia pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1933 sebagai lector di Institut Psikoanalisis Chicago kemudian ia melakukan praktik privat di New York City. Ia pernah mengajar di sejumlah universitas dan institute di New York dan Meksiko. Kemudian Fromm tinggal di Swiss. Buku – bukunya mendapat perhatian luar biasa, tidak hanya oleh ahli – ahli di bidang psikologi, sosiologi, filsafat, dan agama tetapi juga oleh masyarakat umum.
            Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan – tulisan Karl Marx, terutama pada karya – karyanya yang pertama, The economic and philosophical manuscripts yang ditulis pada tahun 1844. Karya Karl Marx ini yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh T. B. Bottormore termuat dalam Marx’s concept of man karangan Fromm (1961). Dalam Beyond the chain of illusion (1962), Fromm membandingkan ide–ide Freud dan Marx, menyelidiki kontradiksi–kontradiksinya dan mencoba melakukan sintesis. Meskipun Fromm dapat disebut sebagai seorang teoritikus kepribadian Marxian, namun ia sendiri lebih suka disebut “humanis dialektik’. Tema dasar dari semua tulisan Fromm adalah mengenai orang–orang yang merasa kesepian dan terasing karena dipisahkan dari alam dan manusia lainnya.
            Setelah bertahun–tahun Fromm mengabdikan dirinya untuk psikoanalisa dan psikologi sosial, akhirnya Erch Fromm memilih untuk tinggal dan beristirahat di  Locarno, Switzerland pada tahun 1976. Lalu pada tanggal 18 Maret 1980, Fromm meninggal akibat serangan jantung di Muraito, Switzerland. 


Pokok – pokok Teori Fromm:
1. Freedom vs Security: Masalah Dasar Manusia
            Dalam buku Fromm yang pertama “Escape from freedom” (1941), menjelaskan pandangannya tentang kondisi manusia: dalam sejarah peradaban Barat yang penduduknya mendapatkan kebebasan yang lebih, mereka menjadi merasa kesepian, terasing dan ketidakberdayaan. Sebaliknya semakin berkurang mendapat kebebasan maka mereka akan merasa lebih aman diterima oleh masyarakat. Fromm memberi contoh orang-orang yang hidup di abad 20 yang menginginkan kebebasan yang lebih besar dari abad lainnya, akan merasa lebih kesepian dan terasing dibandingkan dengan orang-orang dari abad sebelumnya.
Untuk mengerti konteks yang saling berlawanan ini, kita harus menyadari sejarah dari pemerintahan barat, seperti yang disampaikan Fromm. Dia mengawali dengan diskusi tentang evolusi manusia dan mencatat perbedaan antara sifat-sifat alami binatang dengan manusia. Manusia adalah makhluk yang bebas dari mekanisme insting biologis yang menuntut perilaku kebinatangan. Karena kita memiliki kesadaran yang sadar dan kemampuan untuk menguasai alam, sehingga kita tidak sama lagi dengan alam, seperti hewan yang tingkatannya lebih rendah. Fromm menyatakan bahwa orang-orang pada zaman dahulu mencoba untuk keluar dari perasaan terasing dari alam dengan mengidentifikasi diri dengan kelompok atau suku mereka. Saling berbagi mitos, kepercayaan dan ritual kuno. Mereka mendapatkan rasa aman dengan bergabung dalam sebuah kelompok memberikan penerimaan, hubungan dan seperangkat budaya dan aturan.
Namun rasa aman ini tidak bertahan lama, ketika manusia mulai bertumbuh dan berkembang, keinginan mendapatkan kebebasan dan kemandirian mulai muncul. Pada abad pertengahan sebagai abad terakhir dari kebebasan dan stabilitas, seseorang hanya memiliki sedikit kebebasan karena adanya sistem pemerintahan yang menentukan tempat seseorang dalam masyarakat. Walaupun tidak merasa bebas tapi mereka tidak terasing dari orang lain.
Pergolakan sosial pada masa   Renaisans dan Reformasi Protestan mengahn curkan stabilitas keamanan dengan meningkatkan kebebasan individu. Orang – orang mulai memiliki banyak pilihan dalam hidupnya. Kebebasan mereka dibayar dengan hilangnya ikatan sosial yang menjamin rasa aman dan rasa saling memiliki. Hasilnya, mereka merasa terkepung oleh rasa ketidakberartian keraguan mengenai arti hidup mereka.
Menurut Fromm, ada dua pendekatan untuk menatasi dilema antara keinginan untuk bebas dan kebutuhan akan rasa aman yaitu:
1.       Meraih kebebasan yang positif, mencoba mencari ikatan baru dengan orang lain, tanpa melepaskan kebebasan. Kita berhubungan dengan orang lain lewat pekerjaan dan percintaan dengan kemampuan intelektual dan emosional yang kita miliki serta sikap tulus dan terbuka yang kita berikan.
2.       Untuk mendapat kembali rasa aman dengan cara melepaskan kebebasan dan meninggalkan sifat individualitas kita. Walaupun cara ini tidak menuntun ke arah perkembangan dan ekspresi diri, tapi akan menghilangkan kecemasan kita akan rasa keterasingan kita.

2. Mekanisme Fisik untuk mendapatkan rasa aman
            Fromm mengatakan ada tiga mekanisme fisik untuk mendapatkan rasa aman yaitu:
1.         Authoritarianism
            Menjelaskan perjuangan masochistic atau sadistic. Orang yang masochistic punya perasaan rendah diri dan tidak sebanding dengan orang lain. Karena ini mereka mendapatkan rasa aman dari kesepian dengan tunduk pada perintah orang lain.
2.         Destructive
            Menghapuskan objek atau orang lain. Orang yang destructive mengatasi rasa kesepian dan ketidakberdayaannya dengan cara menghancurkan kedua perasaan itu.
3.         Automaton Conformity
            Mengatasi rasa kesepian dengan menghapuskan perbedaan antara diri kita pribadi dengan orang lain.




3. Perkembangan Kepribadian pada Masa Kanak-Kanak
Seiring denga perkembanganya, kebebasan yang diterima anak dari orangtuanya akan meningkat. Namun, semakin anak mendapatkan kebebasan, dia akan semakin merasa tidak dilindungi. Tiga mekanisme yang merupakan hubungan interpersonal antara orangtua dengan anaknya yaitu:
  1. Simbiotic Relatedness
Mekanisme pada kanak–kanak untuk memperoleh rasa aman dimana anak–anak tetap dekat dan bergantung pada orangtuanya. Namun anak tidak pernah mendapatkan kebebasannya, tapi mereka dapat keluar dari rasa kesendiriannya dengan menjadi orang lain yang ditunjukkan dengan adanya proses “swallowing” atau “swallowed”.
  1. With-drawal Destructiveness
Mekanisme pada masa kanak–kanak untuk memperoleh rasa aman dimana anak–anak menjaga jarak diri mereka dari orangtuanya. Perilaku anak bergantung pada perilaku orangtua yang terlalu memegang kendali pada anaknya.
  1. Love
Merupakan bentuk hubungan yang diharapkan dari anak dan orangtuanya. Suatu bentuk interaksi orangtua anak dimana orangtua memberi respek serta keseimbangan antara rasa aman dan tanggungjawab. Kepribadian anak mulai terbentuk pada usia lima tahun tapi kepribadian ini bukan merupakan kepribadian yang tetap. Pengalaman hidup selanjutnya dapat mempengaruhi kepribadian seseorang.

4. Kebutuhan-kebutuhan Psikologis
Menurut Fromm, apa yang penting dalam mempengaruhi atau membentuk kepribadian adalah kebutuhan psikologis. Semua manusia didorong oleh kebutuhan–kebutuhan. Orang–orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara produktif. Orang–orang yang sakit memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara irrasional. Menurut Fromm ada enam kebutuhan manusia yaitu:

  • Kebutuhan Menjalin Hubungan (Need for Relatedness)
Merupakan kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, melalui cinta yang produktif. Cinta yang produktif meliputi perhatian, responsibility (kepekaan), rasa hormat dan pengetahuan. Dengan mencintai, kita dapat bersama atau saling berbagi dan merasa bahagia dengan orang lain. Kita dapat menjadi peka dengan kebutuhan mereka dan menghargai serta mengetahui bagaimana sebenarnya mereka.
Cinta yang produktif dapat diarahkan kepada orang yang berjenis kelamin yang sama (misalnya cinta diantara saudara, kakak-adik atau abang-adik), dapat juga kepada yang berlainan jenis (erotic love), atau bentuk cinta kepada seorang anak (parental love).
Kegagalan dalam pemuasan kebutuhan ini akan menimbulkan sikap narcissism, yaitu orang yang tidak dapat bersosialisasi dengan orang lain. Orang-orang tipe ini tidak dapat menerima dunia secara objektif. Mereka hanya melihat dunia secara subjektif menurut pemikiran, perasaan, dan kebutuhannya.

  • Kebutuhan untuk Berkarya (Need for Transcendence)
Merupakan kebutuhan yang muncul untuk menjadi seorang yang kreatif atau seorang yang perusak. Kebutuhan trasendensi merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk mengatasi peranan pasif sebagai ciptaan karena menyadari kodrat kelahiran dan kematian oksidental dan watak eksistensi yang serampangan, manusia didorong untuk melebihi keadaan tercipta menjadi pencipta, pembentuk yang aktif dari kehidupan sendiri.
Cara yang sehat untuk mengatasi keadaan yang pasif salah satunya adalah dengan berkarya. Jadi, manusia bertindak aktif dan kreatif untuk menguasai alam. Adapun sisi negatif dari sikap ini adalah adanya sikap destruktif karena kehilangan kekuatan dan kemampuan untuk berkreasi, seseorang akan menguasai lingkungan dan merusaknya.
      Destruktivitas dan kreativitas keduanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi, kreativitas merupakan potensi utama yang menyebabkan kesehatan psikologis. Destruktivitas hanya menyebabkan penderitaan objek perusak dan si perusak.
·         Kebutuhan akan identitas (Need for Identity)
Merupakan kebutuhan untuk menerima kemampuan dan karakteristik yang unik. Manusia sebagai individu yang unik membutuhkan perasaan identitas, sesuatu yang menempatkannya terpisah dari orang lain dalam hal perasaannya tentang siapa dirinya. Cara yang sehat untuk memuaskan kebutuhan identitas yaitu dengan individualitas, suatu proses dimana seseorang mencapai perasaan tertentu tentang identitas dirinya. Cara yang tidak sehat dalam membentuk perasaan identitas adalah menyesuaikan diri dengan sifat-sifat suatu bangsa, ras dan agama atau yang biasa disebut dengan konformitas.

  • Kebutuhan untuk Bergantung pada Orang Lain (Need for Rootedness)
Merupakan kebutuhan untuk merasakan kedekatan dan rasa memiliki keluarga, kelompok, dan masyarakat. Kebutuhan ini muncul karena adanya perasaan terpisah dan merasa kesepian. Menurut Fromm, kebutuhan berakar ini dapat dicapai dengan cara yang sehat dan tidak sehat. Cara yang sehat adalah dengan membangun perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, yaitu dalam masyarakat. Cara yang tidak sehat adalah memelihara ikatan masa kanak-kanak dengan ibunya. Orang yang demikian biasanya tidak sanggup meninggalkan rumah dan terus berpegang pada rasa aman yang diberikan ibunya.

  • Kebutuhan akan kerangka orientasi (Frame of orientation and Devotion)
Merupakan kebutuhan akan gambaran yang konsisten dan koheren akan dunia ini untuk dapat memahami peristiwa dan pengalamannya. Setiap individu harus merumuskan suatu gambaran konsisten tentang dunia yang memberikan kesempatan untuk memahami semua peristiwa dan pengalaman. Gambaran ini biasanya dibentuk pada masa kanak–kanak, dimana seorang belajar untuk menggunakan akal dan imajinasi secara efektif untuk menyelesaikan masalah. Dasar kebutuhan ini dapat berupa rasional framework yang merupakan pandangan yang objektif dan irrasional framework yang merupakan pandangan subjektif.  Pandangan semacam ini melepaskan orang dari konteks realitas.         


  • Kebutuhan akan Stimulasi (Need for excitation and stimulation)
Merupakan kebutuhan untuk menstimulasi lingkungan luar, dimana kita dapat memfungsikan sehingga otak dapat berfungsi dengan optimal. Otak membutuhkan level stimulasi yang tepat untuk dapat mencapai kerja yang optimal.

5. Tipe-tipe Karakter
Menurut Fromm, perkembangan karakter manusia adalah kebutuhan akan subsitusi. Karakter punya keseimbangan setiap waktu yang memungkinkan manusia hidup di dunia dengan stimuli tanpa harus konstan dan mempertimbangkan apa yang dilakukan. Bagaimana karakter berkembang? Menurut Fromm, karakter itu dibentuk oleh social  arrangement yang dipengaruhi oleh manusia.
            Dalam formulasi proses perkembangan individu, Fromm memusatkan pada kondisi sosial dan budaya yang unik yang mempengaruhi perkembangan kepribadian. Menurut Fromm, kepribadian yang sehat adalah yang berorientasi produktif dan yang tidak sehat adalah yang berorientasi non produktif.

a)      Orientasi Non Produktif
Fromm membagi orientasi non–produktif ke dalam 5 tipe manusia, yaitu:
B  Tipe Karakter Menerima (Receptive Character Type)
Orang yang memiliki sifat yang mengharapkan untuk mendapat apa saja yang mereka inginkan yaitu dicintai, pengetahuan atau kesenangan. Orang seperti ini sangat tergantung pada orang lain dan merasa tidak berdaya ketika ditinggal sendiri. Mereka merasa tak mampu melakukan hal–hal yang kecil tanpa adanya bantuan dari luar dirinya. Adanya suatu kesamaan antara sifat penerima ini dengan tipe kepribadian mengalah (compliant) yang digagaskan oleh Horney, orang yang digambarkan seperti yang selalu bergerak menuju ke orang lain. Masyarakat yang membantu tipe karakter penerima ini adalah masyarakat yang mempraktekkan eksploitasi (pemaanfaatan) kepada kelompok lainnya.
B  Tipe Karakter Eksploitatif (Exploitative Character Type)
Dalam penyesuaian pemanfaatan, seseorang juga diarahkan kepada orang lain untuk hal–hal yang diinginkan. Oleh sebab itu, daripada mengharapkan orang lain, orang–orang tipe ini lebih cenderung untuk mengambil baik dengan cara pemaksaan maupun dengan cara kecerdikan. Kalau sesuatu diberikan kepada mereka, mereka memandangnya seperti tidak berharga. Bagi orang yang berkepribadian seperti ini, apa yang dicuri atau yang pantas memiliki nilai yang lebih besar dibanding dengan sesuatu yang diberikan secara cuma–cuma. Tipe eksploitatif ini sama dengan yang digagaskan oleh Freud dan tipe yang digagaskan oleh Horney.
B  Tipe Karakter Penimbun (Hoarding Character Type)
Seseorang mengarahkan keamanan dari apa yang ia dapat selamatkan atau dapat ia timbun (simpan). Perilaku yang kikir ini berlaku tidak hanya untuk uang dan barang–barang material, tetapi juga emosi dan juga pemikiran. Orang–orang seperti ini membangun dinding di sekelilingnya dan duduk dikelilingi oleh semua yang telah ia kumpulkan, menjaganya dari gangguan–gangguan dari luar dan membiarkan sesedikit mungkin yang keluar. Suatu kesamaan muncul disini dengan kepribadian penyimpangan anal yang digagaskan oleh Freud dan tipe terpisah (menghindar dari orang) yang digagaskan oleh Horney. Fromm menyarankan bahwa penyesuaian penimbunan atau penyimpanan ini biasa terjadi pada abad ke–18 dan ke-19 di negara–negara yang mempunyai stabilitas ekonomi kelas menengah yang dilambangkan oleh tata susila Protestan untuk praktek-praktek, konservatisme dan bisnis sederhana.
B  Tipe Karakter Pasar (Marketing Character Type)
Fromm mengatakan orientasi ini hanya berkembang pada masyarakat industri. Dalam masyarakat yang demikian, orang belajar untuk memperlakukan diri mereka sendiri dan orang lain seperti komoditi atau barang dengan suatu nilai tukar tertentu dalam satu interaksi paralel dalam ekonomi yang semu.
Akhirnya orang dengan orientasi pasar hanya memiliki sedikit ketertarikan dengan kesejahteraan orang lain. Orang lain diperlakukan sebagai objek untuk dimanfaatkan  untuk mencapai tujuan mereka. Sebagai konsekuensinya, hubungan pasar secara umum dicirikan dengan keseragaman.
b)     Orientasi Produktif
Tipe kepribadian yang merupakan orientasi yang ideal dan merupakan tujuan utama dari setiap individu. Tipe ini juga mengutamakan kehidupan mencintai dan ingin membentuk atau mempengaruhi orang lain dengan cinta. Meliputi kemampuan mental emosional dan respons kepada orang lain, kepada diri sendiri dan kepada benda–benda dan kemampuan ini digunakan untuk mengetahui potensi yang dimiliki, sehingga dapat mengembangkannya. Orang tipe ini hanya dapat menggunakan kekuatan atau kekuasaan jika mereka bebas dan independen dari kontrol orang lain. Berikut ini aspek-aspek kepribadian yang sehat dengan orientasi produktif menurut Fromm, yaitu:
a.         Cinta yang produktif
Merupakan suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner–partner dapat mempertahankan individualitas mereka. Cinta yang produktif menyangkut empat sifat yaitu: perhatian, tanggungjawab, respek dan pengetahuan
b.         Pikiran yang produktif
Meliputi kecerdasan, pertimbangan dan objektifitas
c.         Kebahagiaan
Merupakan suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif
d.         Suara Hati
Fromm membedakan suara hati menjadi 2 bagian yaitu :
§  Suara hati otoriter adalah nilai penguasa dari luar yang diinternalisasikan yang memimpin tingkah laku orang tersebut
§  Suara hati humanist adalah suara hati dari diri sendiri, bukan dari suatu perantara dari luar

Dalam buku The Heart of Man, Fromm memperkenalkan bentuk orientasi lainnya, yaitu necrophilous dan biophilous. Tipe karakter necrophilous merupakan suatu karakter yang berbahaya. Nekrophilia memperlihatkan perilaku destruktif dengan mengekspolitasi dan merusak orang lain atau benda–benda serta alam lingkungan. Mereka adalah tipe yang tertarik dan berpenampilan pada segala bentuk kematian. Mereka umumnya rasialis, teroris, penghasut, pembunuh, dan penyiksa orang berdosa. Nekrophilia juga sangat dekat dan mengagungkan teknologi. Mereka biasa menggunakan teknologi untuk menciptakan nuklir atau instrumen–instrumen yang menyebabkan kematian lainnya. Contoh orang yang memiliki tipe karakter ini adalah Adolf Hitler.
Tipe karakter biophilous memiliki kemiripan dengan orientasi produktif. Orang-orang dengan tipe ini tertarik untuk bertumbuh, berkarya, dan membangun. Mereka mencoba untuk mempengaruhi orang lain dengan cinta dan syarat, bukan dengan kekuasaan dan kekuatan. Mereka peduli dengan perkembangan dirinya dan orang lain, dan pandangan mereka jauh ke depan.

6. Pandangan Fromm tentang Manusia
            Pandangan Fromm tentang manusia adalah optimistik. Fromm melihat kepribadian sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa harus didefenisikan menurut bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu–individu menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Karakter seseorang dipengaruhi oleh karakter-karakter sosial, politik, dan  ekonomi masyarakat kita, namun tidak menentukan karakter kita karena setiap orang memiliki kemampuan untuk membentuk karakter kepribadian dan sosialnya sendiri.
Fromm menyatakan bahwa masyarakat yang ideal merupakan keadaan manusia yang tergantung pada manusia lainnya. Hal itu ditandai dengan adanya cinta, persaudaraan, dan solidaritas setiap manusia dalam lingkungan sosial. 
Apakah suatu kepribadian itu sehat atau tidak sehat tergantung pada kebudayaan yang membantu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan manusia yang positif.


7. Assessment pada Teori Fromm
Teori neopsikoanalisa mencoba untuk meneliti bagaimana kepribadian seseorang itu dengan metode penaksiran atau evaluasinya. Fromm menulis sedikit mengenai teknik penaksirannya itu. Biasanya dia memberi perhatian pada observasi psikologi analisa, tapi bukan pada masalah analitik yang lebih spesifik ataupun studi kasusnya.
            Fromm menggunakan bentuk asosiasi bebas dan berdasarkan pada analisis mimpi, yang merupakan salah satu alat terapi. Sebagian besar teori Fromm didasarkan pada generalisasi dan spekulasi (renungan) yang berasal dari interpretasi dari sejarah, sosial dan kebudayaan. Dia juga membahas dari segi agama, ekonomi, politik dan antropologi.

FIX - LAPORAN OBSERVASI TERKAIT PROSES PEMBELAJARAN E-LEARNING

0 comments


 LAPORAN OBSERVASI TERKAIT PROSES PEMBELAJARAN E-LEARNING


Nama Anggota Kelompok:
1. Ade Rahmayani Siregar (12-008)
2. Rapidah Marpaung (12-016)
3. Lucy Gabriella (12-048)
4. Rina Z Ginting (12-070)
5. Indri Frederika (12-082)
6. Yosephine Arinta Yolanda Simarmata (12-088)

Identitas Sekolah:
Nama                                      : SMA Negeri 2 Model Binjai
Alamat                                     : Jl. Padang No. 08 Binjai Selatan
Uang Sekolah                          : Rp80.000,-
Konsep e-learning                   : Power point
Website sekolah                      : www.sman2binjai.sch.id(beberapa materi pembelajaran tersedia di web hanya saja  tidakdimanfaatkan siswa)
Sejak kapan digunakan           : 2009

A.    Penjelasan Deskripsi Sekolah dan Perangkatnya
SMA Negeri 2 Model Binjai berlokasi di Jl. Padang No. 08 Binjai Selatan. Sekolah ini telah berdiri sejak tahun 1978 dan terletak di sekitar perumahan warga. SMA yang terkenal dengan keasrian lingkungan sekolahnya ini dipimpin oleh Bapak  Syaiful Bahri dan dibantu oleh tiga PKS. Selain itu, sekolah ini juga memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang sangat baik dan beragam sehingga memfasilitasi siswanya untuk dapat mengembangkan bakat sesuai dengan minat mereka. Kemudian, sekolah ini juga difasilitasi dengan Lab. Komputer, Lab. Bahasa, Lab. Olahraga, Lab. Fisika, Lab. Kimia dan Lab. Biologi. Lingkungan sekolah yang asri, sarana pembelajaran siswa yang sudah bisa dibilang sangat bagus dan lengkap serta tenaga pendidik yang handal tentunya dapat memotivasi setiap siswa SMAN 2 Model Binjai untuk terus berprestasi. Tak heran bila berbagai penghargaan sudah diraih oleh sekolah ini, baik tingkat provinsi ataupun nasional, dan yang paling membanggakan adalah predikat sekolah Model pada tahun 2010.
 
B.     Uraian Objektif Observasi
Observasi dilakukan pada tanggal 23 Mei 2013 mulai pukul 08.30 WIB. Kami membagi kelompok observasi menjadi dua. Kelompok pertama yang melakukan observasi adalah (Rapidah, Ade, dan Indri) di kelas XI IPA-5 dengan mata pelajaran Biologi selama 60 menit, dari pukul 08.30- 09.30 WIB sedangkan kelompok kedua yang melakukan observasi adalah (Yosephine, Rina, dan Lucy) di kelas X-10 dengan mata pelajaran Biologi selama 60 menit, dari pukul 10.00-11.00 WIB.Setiap anggota kelompok mengamati teori belajar, motivasi, orientasi belajar, dan manajemen kelas.Di akhir jam pelajaran, kami meminta waktu sekitar 15 menit untuk membagikan kuesioner kepada adik-adik.
Setelah observasi selesai dilakukan, kelompok melakukan wawancara dengan beberapa guru mengenai pandangan mereka terhadap proses pembelajaran e-learning. Guru yang diwawancarai kelompok adalah Ibu Novianti (B. Indonesia), Pak J. Sinaga (Matematika), dan Pak Herman (Matematika).

C.    Laporan Hasil Observasi
Observasi awal kami lakukan  di kelas  XI IPA-5, dimana kelas ini menggunakan proyektor saat pembelajaran e-learning.Pada mata pelajaran biologi yang diajarkan oleh ibu Sada Arih Bangun, memiliki banyak hambatan, misalnya saja saat kegiatan pembelajaran berlangsung tiba-tiba mati lampu sehingga infokus serta laptopnya tidak bisa menyala. Namun pembelajaran tidak berhenti sampai di situ, ibu SB melanjutkan pembelajaran tanpa bantuan infokus.
Melihat yang terjadi di dalam kelas dapat kami simpulkan bahwa pembelajaran di kelas itu menggunakan orientasi belajar Teacher Central Learning, ini terbukti dari keaktifan ibu SB yang lebih dominan memberikan informasi. Sesekali ibu SB mengajukan pertanyaan kepada para siswa dan di akhir pembelajaran ibu SB memberikan tugas kepada para siswa. Selain itu, kami mengamati bahwa motivasi belajar siswa setelah proses pembelajaran e-learning yang tidak berjalan dengan baik karena mati lampu berkurang.
Mereka lebih termotivasi belajar dengan menggunakan power point yang disajikan. Namun saat power point yang berasal dari guru tidak berjalan, mereka kurang konsentrasi dalam menerima informasi yang menurut mereka abstrak tanpa keterangan yang dijelaskan pada power point.
Dengan melihat motivasi mereka yang naik turun tersebut, kami menyimpulkan kembali bahwa teori belajar yang mendukung saat itu pada murid yang ada adalah teori belajar kognitif, dimana mereka belajar bukan karena kemauan yang datang dari dalam diri mereka, namun karena sesuatu hal yang memang semestinya harus mereka capai.
Manajemen kelasnya sendiri boleh dibilang sedikit bagus, dimana kondisi kelasnya bersih, ventilasi udara baik, penataan kursi yang rapi, dan gurunya sendiri yang dapat mengendalikan jalannya pembelajaran dengan sangat baik. Namun, terdapat kekurangan dalam manajemen kelasnya, dimana kelas yang begitu sempit harus menampung murid yang berjumlah hampir mencapai 60 orang. Hal tersebut membuat ruangan pengap, panas jika hari sudah siang, dan guru kurang bisa untuk menjaungkau muridnya dengan baik. Selain itu kondisi tirai yang tidak rapi, dan warna cat kelas terlalu cerah, juga membuatproses pembelajarantidak berjalan dengan baik.
Pada Observasi kedua dilaksanakan di kelas X-10. Kondisi siswa pada kelas ini memiliki motivasi belajar yang sangat amat kurang. Tidak ada perhatian khusus yang mereka berikan untuk dapat memperhatikan guru dan teman yang sedang melakukan presentasi di depan kelas dengan baik dan serius.
Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut :
  1. Motivasi diri untuk belajar kurang.
  2. Suasana kelas yang tidak mendukung untuk proses belajar mengajar (cuaca panas, kipas tidak ada, dan jendela kelas yang tertutup oleh papan tulis).
  3. Guru yang kurang memberikan penguatan motivasi kepada murid agar lebih memperhatikan. Dalam hal ini murid dibiarkan berlaku sesukanya.
Orientasi belajar yang digunakan pada kelas ini adalah SCL (Student Centered Learning) dimana sistem pembelajaran berpusat pada murid. Pada saat itu ada dua kelompok yang menampilkan hasil diskusi mereka melalui proyektor.
Dalam hal manajemen kelas, kelas ini bisa dikategorikan kurang tertata dengan baik dan rapi. Hal ini kami lihat dari jumlah murid yang mencapai 50 orang dengan keadaan kelas yang sempit, sehingga meja guru sangatlah dekat dengan meja murid paling depan. Pencahayaan kelas juga kurang baik, kami amati lewat jendela bagian depan kelas yang seharusnya bisa menjadi sumber cahaya tetapi malah ditutupi oleh papan tulis sehingga pencahayaan dari depan terhalang.
Teori belajar pada kelas ini berpegang pada teori humanistik, dimana pembelajaran diserahkan seluruhnya kepada murid. Sehingga jika murid mau pintar maka belajar, namun jika tidak, murid tidak ditegur bila ingin melakukan hal-hal lain disamping mata pelajaran tersebut seperti ngobrol dengan teman sebangku, tertawa-tawa, menggambar-gambar, dan sebagainya. 

C.1. Hasil Kuesioner
Berikut ini adalah hasil kuesioner yang diberikan kepada siswa SMAN 2 Model Binjai:

Questionnaire
Hasil
Apakah sistem pembelajaran E-learning meningkatkan mootivasi belajar anda
Ya
IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  II
Tidak
-
Apakah anda menyukai sistem pembelajaran E-learning
Ya
IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII
Tidak
II
Apakah sitem pembelajaran E learning efektif untuk anda
Ya
IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIIII  IIII
Tidak
III
Apakah yang anda pahami terkait dengan sistem pembelajaran E-learning
·   Menggunakan teknologi informasi dan informatika
·   Pembelajaran yang mencari bahan menggunakan internet sehingga siswa lebih mudah mengerti dan paham
·   Media untuk mencari bahan pelajaran sehingga  memudahkan siswa untuk mengakses ilmu pengetahuan
·   Ya, seperti itulah
·   Dengan sistem pembelajaran e- learning membuat siswa lebih cepat memahami pelajaran dan lebih efektif
·   Sistem pembelajaran yang lebih efektif karena menggunakan teknologi informasi dan informatika
·   Yaitu, mudah mencari hal penting yang tidak ada di buku pelajaran
·   E- learning merupakan sistem pembelajaran modern  yang dipakai sekolah zaman sekarang
·   Sistem pembelajaran e-learning sangat bermanfaat bagi saya karena dengan mudah dan lebih lengkap
·   Belajar dengan sistem elektronik media selain dari buku pelajaran  dan  guru pembimbing
·   Sistem pembelajaran yang menggunakan media elektronik dan sistem yang mudah digunakan
·   Cara pembelajaran yang memudahkan siswa menambah ilmu
·   Mempermudah dan mempercepat belajar mengajar, menambah ilmu di dunia elektronik
·   Memudahkan dan memudahkan kegiatan proses belajar mengajar serta menambah pengetahuan dengan menggunakan media elektronik
·   Pembelajaran e-learning memudahkan dan mempercepat kegiatan belajar mengajar di sekolah
·   Proses pembelajaran dengan menggunakan media elektronik
·   Pembelajaran e learning memudahkan siswa untuk mendapatkan informasi dengan mudah dan menarik wiswa untuk belajar dengan lebih giat
·   Pembelajaran e learning memudahkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar
·   Pembelajaran e-learning memudahkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar dan akan membuat siswa lebih memahami
·   Sistem yang sangat tepat untuk media pembelajaran pada era sekarang
·   Iya, saya paham e-learning karena belajar secara ini meningkatkan motivasi belajar saya
·   Pembelajaran e-learning dapat menambah pengetahuan dan lebih jelas
·   Efektif
·   Pembelajaran e-learning sangat efektif dan kita lebih mudah untuk memahaminya
·   Lebih mudah dalam melakukan proses pembelajaran
·   Sistem e-learning adalah sistem pembelajaran yang menggunakan media elektronik
·   Sistem Pembelajaran e-learning adalah sistem pembelajaran yang cukup mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju
·   Dengan Pembelajaran e-learning lebih efektif karena saya dapat dengan mudah mengerti dengan pelajaran tersebut
·   Pembelajaran e-learning sangat efektif dan lebih mudah di mengerti
·   Ya, saya paham karena adanya penambahan e-learning meningkatkan motivasi belajar karena adanya video maupun gambarnya
·   Laptop, infocus dan wifi
·   Mudah dipahami dan tidak sullit dimengerti
·   Kami tidak susah-susah mencatat mata pelajaran karena datanya dapat dicopy
·   Pembelajaran e-learning sangat memudahkan kami
·   E-learning adalah proses belajar dengan memakai laptop atau komputer dan jaringan wifi
·   Dengan menggunakan internet
·   Sistem e-learning merupakan sistem  yang memudahkan seorang siswa dan sangat efektif bagi siswa terutama untuk saya karena lebih jelas dan mudah
·   Belajar internet
·   Belajar menggunakan media elektronik seperti infocus, laptop, komputer dan sebagainya
·   Paham
·   Lebih efektif, lebih mudah dimengerti, simple, lebih menyenangkan
·   Kalau dalam pembelajaran e-learning bagus digunakan karena dapat membantu kita
·   Kalau dalam Pembelajaran e-learning bagus digunakan, karena dapat membantu kita untuk mengakses ilmu pengetahuan
·   Yang saya pahami adalah dapat mencerna pelajaran dengan baik dan kami tidak susah mencatat semua pelajaran
·   Lebih paham tentang pelajaran e-learning dan lebih fokus
·   Yang saya pahami tentang Pembelajaran e-learning adalah salah satu metode pembelajaran yang tidak menggunakan buku pengetahuan melainkan dengan media elektronik
·   Lebih paham dimengerti oleh murid dan pembelajarannya efektif

Proses pembelajaran E-learning seperti apa yang anda inginkan
· Yang mudah dan dapat dimengerti
· Ya, lebih tingkatkan lagi
· Bagus
· Sekolah harus meningkatkan
· Yang bagus, dan bermanfaan untuk digunakan dalam pembelajaran kita
· Bagus dan bermanfaat
· Dengan cara onlineadanya jaringan wifi denagn cara belajar online
· Tenang, nyaman dan yang lebih efektif
· Mudah dipelajari
· Mudah di akses
· Seperti manual
· Yang tentram dan mudah diingat
· Sekolah harus menerapkan belajar dengan e learning
· Mudah dipahami dan tidak ada kesulitan
· yang online, sama videonya di tambah kalau bisa
· infokus
· menggunakan media elektronik yang sepenuhnya
· soal sistem online
· lebih ditingkatkan teknologi
· diberikan akses wifi dan menggunakan infokus di setiap kelas dan sistem pembelajaran dengan presentasi
· wifinya tidak usah lagi menggunakan password langsung saja terkoneksi ke setiap kelas
· koneksinya cepat, wifinya sampai ke semua kelas tanpa menggunakan password
· penggambungan antara e-learning dan guru seimbang
· peralatan untuk melaksanakan kegiatan tersebut memadai
 












                        



C.2. Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru di SMAN 2 Model Binjai, kelompok mendapatkan informasi bahwa sistem pembelajaran e-learning ini memiliki dampak positif dan negatif. Guru melihat bahwa sistem pembelajaran ini sangat praktis dan dapat mengefisiensi penggunaan waktu karena guru tidak perlu lagi menuliskan contoh atau informasi penting di papan tulis. Dengan adanya power point, guru hanya tinggal mengganti slide demi slide lalu memberikan penjelasan. Hanya saja, sistem pembelajaran ini membuat siswa menjadi pasif dan terkesan malas. Siswa jadinya hanya seperti menonton gurunya sedang menjelaskan.
Pak J. Sinaga menyebutkan kalau untuk mata pelajaran Matematika, sistem pembelajaran e-learning ini semakin membuat siswa bodoh. Namun jika untuk mata pelajaran lain seperti misalnya Biologi, sistem pembelajaran ini benar-benar sangat efektif untuk memotivasi siswa dalam belajar.
Bu Novi sendiri menambahkan bahwa sistem pembelajaran e-learning ini sangat sulit untuk diterapkan pada sekolah negeri apalagi seperti SMAN 2 Model Binjai dikarenakan kondisi ekonomi setiap siswa yang berbeda.
Setiap tahunnya, guru-guru diberikan pelatihan menggunakan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran, sepertinya misalnya membuat Quiz Creator Onlines, memposting materi pembelajaran di blog guru masing-masing atau terkadang diminta untuk memposting bahan ajar di pusat sumber pembelajaran SMA, dan lain-lain. Akan tetapi setelah guru menerapkannya, kendala pembelajaran e-learning terletak pada siswa. Seperti misalnya ingin membuat Quiz Creator di akhir pembelajaran yang terhambat tidak semuanya siswa memiliki laptop. Dalam satu kelas yang berjumlah sekitar 40 orang, hanya dapat dipastikan sekitar 10 orang yang bisa membawa laptop. Alhasil, semua bahan yang telah disiapkan guru di blog ataupun website sekolah tidak dapat diakses oleh seluruh siswa.


D.    Kesimpulan
·         Kelompok
Menurut kami pembelajaran e-learning merupakan suatu metode belajar yang bagus untuk diterapkan di sekolah-sekolah. Namun sebelum memberikan metode ini kepada siswa, sebaiknya diberikan pengenalan kepada murid tentang tujuan dan prosedur dari pembelajaran melalui proses e-learning tersebut supaya siswa mampu mengikuti metode ini dengan baik sehingga interaksi antara guru dan murid lebih sinkron, serta pembelajaran pun akan menjadi sangat efektif.
Melalui hasil observasi yang kami lakukan, baik secara langsung ataupun berdasarkan kuesioner yang kami bagikan kepada para murid, diperoleh hasil yang kurang maksimal dan tidak sesuai dengan harapan kami mengenai e-learning itu sendiri. Hal ini dikarenakan tidak semua siswa yang mengerti apa itu e-learning dan tidak semua siswa juga yang memiliki kemampuan dalam menyediakan fasilitas sehingga murid hanya menjadi terfokus pada apa yang disampaikan guru saja dan tidak mampu mengembangkan ilmu pengetahuannya dengan bantuan informasi melalui internet atau semacamnya.
Dampak negatif darisistem pembelajaran e-learning yang berbasis OFF ini adalah membuat murid malas membaca buku dan mencari informasi yang lebih banyak lagi. Ini dikarenakan mereka lebih terfokus akan informasi yang disediakan oleh guru melalui power point tersebut. Mereka juga beranggapan bahwa informasi yang disajikan guru lewat power point tersebut jauh lebih lengkap ketimbang informasi yang mereka dapati di buku bacaan mereka.
Orientasi belajar yang terjadi pada sekolah tersebut juga boleh dikatakan lumayan berhasil. Dimana konsep TCL-nya benar-benar disampaikan atau diajarkan oleh guru yang bagus karena memiliki pengetahuan yang baik tentang materi yang diajarkan dan kemampuan guru untuk dapat mengendalikan situasi belajar yang ada. Sedangkan konsep SCLnya sendiri juga dapat membantu murid-murid yang presentasi untuk dapat mempersiapkan dirinya dengan baik, agar dapat menyampaikan materi kepada teman-temannya dengan baik. Dengan konsep ini, kita juga dapat melihat seberapa besar tanggung jawab murid itu untuk dapat mengikuti proses pembelajaran dan seberapa besar murid memberikan kepeduliannya terhadap teman-temannya yang akan berpresentasi.
Sedangkan tentang manajemen kelasnya, kondisi kelas yang sempit tersebut mungkin dikarenakan kesalahan dari pihak sekolah yang tidak dapat mengatur tata ruangan tiap kelas agar terlihat bagus, rapi, dan juga jumlah murid yang tidak banyak. Kondisi seperti ini boleh dikatakan kondisi yang dipaksakan. Sekolah mamaksakan untuk dapat menerima murid sebanyak-banyaknya dengan kondisi kelas yang sangat sempit. Dengan kondisi kelas seperti itu, seharusnya jumlah murid yang dapat dimaksimalkan hanya mencapai 30 orang saja. Supaya konsentrasi dan kefokusan murid dalam menerima pelajaran bagus, dan guru pun dapat memberikan informasi dan pengetahuan dengan baik serta interaktif. Selain itu, guru juga dapat memberikan perhatiannya dengan sangat baik dan dapat menjangkau keberadaan murid-muridnya.
  • Komentar Pribadi 
Secara pribadi, pemilihan menggunakan metode e-learning untuk proses pembelajaran di SMAN 2 Binjai menurut saya adalah pilihan yang tepat. Mengapa? Karena penggunaan e-learning adalah suatu cara yang dapat mempermudah siswa dalam memahami mata pelajaran tertentu terutama dalam mata pelajaran yang menuntut pemahaman lebih seperti pelajaran biologi yang banyak menggunakan gambar-gambar dalam penjelasannya. Melalui e-learning semua materi dapat disajikan dengan bentuk yang lebih sederhana sehingga terkesan lebih menarik dan  pastinya juga akan semakin mudah dicermati dan dipahami oleh siswa.
Sesuai dengan hasil observasi yang  kami lakukan dengan dua metode pengamatan yaitu langsung (kami masuk ke kelas dan mengamati sistem pembelajaran) dan tidak langsung ( melalui angket yang berisikan pertayaan mengenai pengetahuan dan pandangan siswa terhadap e-learning) di lokal X-10, kami mendapatkan hasil yang kontras dari para siswa mengenai pemakaian metode ini. Mereka banyak yang tidak mengerti dengan pemakaian konsep ini sehingga mereka tidak memperdulikan  apa yang sedang terjadi di depan kelas dengan kesibukan masing-masing.
Menurut pemikiran saya ini tidak sepenuhnya kesalahan siswa. Dengan pembelajaran menggunakan metode e-learning dan orientasi belajar SCL, bukan berarti guru tinggal diam tidak mengajar tetapi seharusnya guru juga harus mampu berinteraksi dengan siswa sehingga  keadaan kelas kondusif dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa sehingga siswa memiliki kemauan lebih untuk belajar.  Disamping itu, ketidakpedulian siswapun bisa jadi disebabkan oleh manajemen kelas yang buruk seperti yang sudah dipaparkan di atas tadi mengakibatkan suasana dan susunan kelas tidak nyaman buat siswa.
Oleh karena itu dalam suatu pembelajaran baik menggunakan e-learning maupun bukan, manajemen kelas adalah salah satu hal penting yang “wajib” diperhatikan oleh pihak sekolah agar suasana dan kondisi aman dalam proses belajar mengajar bisa berjalan efektif seperti yang di harapkan.

E. Testimoni
Tugas observasi dalam mata kuliah psikologi pendidikan sangat menyenangkan buat saya, menambah pengalaman dan pengetahuan saya, serta memberikan suatu arti “tim / kelompok” yang sesungguhnya. Saya bersyukur bisa memiliki tim yang solid, kompak, dan memiliki jiwa kebersamaan yang HEBAT. 
Pengerjaan observasi kami tidak lepas dari interaksi satu sama lain, dimana kami saling bertukar pendapat mengenai sekolah mana yang akan kami tuju (cerita sedikit, Bu hehhe. Mencari sekolah yang akan diobservasi tidaklah mudah, terlebih kami tidak memiliki anggota kelompok yang memang berasal dari Medan. Dengan kata lain kami semua adalah perantau di kota ini, dan yang paling dekatpun hanya Rina yang berdomisili di Binjai. Jadi pada awalnya kami tidak kepikiran untuk melakukan observasi di Binjai karna alasan jauh. Jadi kami mencari sekolah yang ada di Medan saja. Kami berpikir sekolah apa ya kira—kira sudah menggunakan e-learning? Lalu salah satu dari anggota kelompok menyebutkan satu sekolah yang tanpa ada pendapat lain langsung disetujui oleh semua anggota kelompok. Besoknya kami menuju sekolah tersebut, mengurus surat izin untuk dapat bertemu dengan petinggi sekolah itu, namun apalah daya, karna tidak adanya penguat *mungkin alumnus dari sekolah tersebut* kami ditolak secara halus, tapi tidak masalah. Kami coba tenang dan berpikir kembali. Lalu Rina ragu-ragu mengusulkan ke sekolahnya saja. Tanpa pikir panjang kami semua kembali meng-iyakan ^^. Rina coba menelepon guru yang cukup dekat dengannya, dan puji Tuhan Ibu tersebut mau membantu kami sehingga kami menyusun rencana kedua yaitu --> ) bagaimana menempuh sekolah itu karena Binjai dikategorikan cukup jauh, cara apa yang akan kami lakukan dalam observasi, hingga “reward” apa yang akan kami berikan kepada siswa, guru serta untuk sekolah itu sendiri hingga pada akhirnya observasi kami mengenai penggunaan metode e-learning berjalan sukses. 
Tak lupa terimakasih saya ucapkan kepada seluruh dosen pengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan yang telah memberikan kami tugas untuk melaksanakan observasi, terutama ucapan terimakasih yang sangat besar kepada Ibu Filia Dina Anggaraeni M,Pd yang telah memberikan masukan dan arahan kepada kami dalam melalkukan observasi. Dan juga kepada teman teman-teman seperjuangan dari kelompok ganjil ( Rodho, Hans, Venny, Uun, Icha, dan Irma) atas kerjasama yang baik dari kelompok teman-teman serta buat kelompok saya pribadi yang sangat solid ( LUCY GABRIELLA HUTAURUK, RINA ZENIWATI GINTING, INDRI FREDERIKA MUNTHE, ADE RAHMAYANI SIREGAR, RAPIDAH MARPAUNG) makasih buat kerjasama dan kerja keras teman-teman semua. Baru kali ini ke Binjai, guys. Pengalaman yang seru bareng kalian :*